facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Review
    • MakeUp
    • Agrotechnology
    • SkinCare
  • Others
  • Contact
  • Shop

Seiya Light


I. PENDAHULUAN

Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan yang memiliki nama ilmiah Capsicum annum Cabai berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara-negara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia.Tanaman cabai banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya. Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di Negara asalnya. Masyarakat pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis saja, yakni cabai besar, cabai keriting, cabai rawit dan paprika.
Cabai merupakan salah satu komoditas sayuran penting dan bernilai ekonomi tinggi di Indonesia. Tanaman cabai dikembangkan baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Produktivitas cabai nasional Indonesia tahun 2008 adalah 6.44 ton per hektar. Angka tersebut masih sangat rendah jika dibandingkan dengan potensi produksinya. Produktivitas cabai dapat mencapai 12 ton per hektar (Purwati et al., 2000).
Penyebab rendahnya poduksi cabai merah adalah adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Timbulnya masalah hama dan ledakan hama sebagian besar disebabkan kekurangtepatan tindakan manusia. Salah satu faktor utama yang menyebabkan rendahnya produktivitas cabai Indonesia adalah gangguan hama dan penyakit. Beberapa penyakit yang dominan menyerang cabai adalah antraknosa, hawar Phytophthora, layu bakteri dan virus. 
Menurut Agrios (1997) ketahanan terhadap penyakit dapat dikelompokkan ke dalam ketahanan struktural dan ketahanan fungsional. Contoh ketahanan struktural antara lain tebal tipisnya epidermis, adanya lignin pada dinding sel, adanya lapisan lilin pada permukaan buah. Ketahanan fungsional dapat berupa antara lain meningkatnya aktivitas enzim tertentu atau terbentuknya ketahanan zat toksik tertentu seperti fitoaleksin yang dapat mematikan patogen. Kombinasi antara sifat struktural dan reaksi biokimia yang digunakan untuk pertahanan bagi tanaman berbeda antara setiap sistem kombinasi inang-patogen. Bahkan pada inang dan patogen yang sama, kombinasi tersebut dapat berbeda dengan berbedanya umur tanaman, jenis organ dan jaringan tanaman yang diserang, keadaan hara tanaman dan kondisi cuaca.
Penanganan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) baik hama, penyakit, dan gulma sangat penting untuk mendapatkan hasil produksi yang optimum. Pentingnya pelaksanaan praktikum langsung di lapang adalah memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada mahasiswa tentang budidaya tanaman cabai termasuk penanganan Organisme Pengganggu Tanaman yang dilakukan oleh petani.
 
II. PEMBAHASAN

A. Kondisi Umum Lahan
Tanaman cabai pada umumnya ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi + 2.000 meter dpl yang membutuhkan iklim tidak terlalu dingin dan tidak terlalu lembab. Temperatur yang baik untuk tanaman cabai adalah 240 - 270 C, dan untuk pembentukan buah pada kisaran 160 - 230 C. Pada survey lahan cabai ini kami melakukan pengamatan di lahan Bapak Man yang berada di Desa Kalangan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. 
Lahan cabai milik Bapak Man ini memiliki luas lahan + 1.200 m dengan menerapkan pola tanam monokultur. Pada lahan tersebut ditanami dua macam jenis cabai yaitu cabai merah dan cabai rawit. Kondisi disekitar lahan cabai tersebut ditanami tanaman padi, sehingga pada lahan cabi tidak banyak ternaungi. Pada lahan seluas 500 m tersebut terdapat 37 bedengan/guludan, 2 gulud ditanami cabai rawit dan 35 gulud ditanami cabai merah. Varietas cabai yang ditanami jenis cabai hibrida yaitu cabai jenis hot beauty merupakan jenis cabai hibrida dengan buah yang besar-besar. Cabai jenis ini digunakan pada saat musim panas, sedang pada musim dingin atau penghujan digunakan jenis cabai prada karena jenis cabai ini memilik karakteristik perakaran yang kuat, varietas tersebut dibeli dari Saprodi. Lahan seluas 1.200 m tersebut membutuhkan benih sekitar 259 biji, dimana benih cabai yang dibeli sebanyak 2 bungkus/kamplek. Sebelumnya lahan cabai tersebut ditanami padi, sehingga dalam proses pengolahan lahan dimulai dari awal dalam proses pembuatan guludan. 
 
B. Cara Budidaya Tanaman Cabai oleh Petani
Cara budidaya cabai yang dilakukan Bapak Man pada lahan pengamatan yang berada di Desa Kalangan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo tersebut diawali dengan proses pembibitan terlebih dahulu. Pembibitan yang dimaksud yaitu dengan menyemaikan benih terlebih dahulu kemudian dilakukan pindah tanam pada ditanam pada lahan. Untuk lebih jelasnya, akan dijabarkan dalam poin berikut:
1. Pengolahan Lahan
Petani terlebih dahulu membersihkan lahan dari sisa-sisa budidaya musim sebelumnya. Selanjutnya petani mencangkul guludan-guludan setelah selesai petani memasang mulsa pada guludan-guludan tersebut, sehingga lahan siap untuk ditanami bibit cabai merah. Sebelum dilakukan pemasangan mulsa plastic, sebelumnya guludan tersebut diberi pupuk kandang, SP-36, Ponska dan ZA.
2. Persemaian
Pada tanaman cabai sebelum ditanam dilakukan persemaian, hal tersebut dilakukan supaya pertumbuhan tanaman cabai dapat tumbuh seragam. Pada proses penyemaian cabai ini juga dilakukan pemeliharaan, pemeliharaan tersebut dilakukan dengan penyiraman satu kali sehari yaitu pada sore hari. 
3. Penanaman/Transplanting
Proses penanaman dilakukan setelah bibit cabai berumur + 25 hari, dimana bibit cabai tersebut sudah muncul akar. Penanaman cabai dilakukan dengan cara melepaskan bibit cabai dari polybag dengan hati-hati supaya akar cabai tidak putus sehingga tanaman cabai tidak mengalami stagnasi. Proses penanaman cabai ini sangat menentukan dari pertumbuhan tanaman cabai, apabila dalam proses penanaman cabai akar tanaman tidak masuk seluruhnya kedalam tanah maka bibit cabai yang ditanam tersebut dapat kering. Pada awal penanaman cabai ini proses pengairan sangat diperlukan untuk menunjang poses pertumbuhan tanaman cabai.
Tanaman cabai yang sudah cukup tinggi maka perlu diberi ajir, hal tersebut dilakukan supaya tanaman cabai tidak rubuh ketika terkena air hujan. Setiap tanaman cabai diberi satu ajir, kemudian batang tanaman cabai diikat dengan ajir tersebut. Pemangkasan dilakukan pada cabai merah, pemangkasan pada cabang terbawah hal tersebut 
4. Pengairan
Pengairan pada budidaya cabai berasal dari air hujan, selain itu pengairan juga diambil dari sumber mata air yang diambil dengan menggunakan diesel. Pada musim penghujan guludan dibuat lebih tinggi supaya apabila terjadi banjir maka tanaman cabai tidak terendam air. Antara guludan dibuat parit dan selalu digenangi air dengan tujuan menjaga kelembapan tanah tetap stabil. 
5. Pemupukan
Pemupukan dilakukan mulai dari awal penanaman, karena bibit cabai yang masih kecil memerlukan banyak nutrisi untuk tumbuh. Pemupukan dilakukan dengan cara pengocoran, karena dengan pengocoran pupuk tersebut akan lebih mudah diserap oleh tanaman cabai. Pengocoran dilakukan + 5 kali selama musim tanam, pupuk yang digunakan untuk pengocoran yaitu campuran pupuk SP-36 dan ZA. Selain pemupukan pada akar tanaman juga dilakukan pemupukan daun dengan menggunakan pupuk daun jenis Trobos.  
6. Pengendalian OPT
Pengendalian hama dan penyakit dengan penyemprotan pestisida saat terlihat adanya serangan hama dan penyakit yang mulai merugikan petani. Pengendalian hayati yang dilakukan adalah dengan sanitasi yaitu membuang, membakar, membenamkan tanaman yang terserang penyakit, yang bertujuan agar tidak terjadi penularan penyakit antar tanaman atau dari tanaman yang terkena penyakit.
Pada tanaman cabai yang kami amati untuk saat ini belum menunjukkan tanda-tanda terserang hama atau penyakit, karena Bapak Man melakukan monitoring setiap hari sehingga tanaman cabai apabila terdapat tanda-tanda terserang hama atau penyakit dapat segera dilakukan pengendalian. 
C. Panen
Secara umum beberapa hal yang perlu diperhatikan pada penanganan panen meliputi;
1. Lakukan persiapan panen dengan baik. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan, tempat penampungan hasil dan wadah-wadah panen, serta pemanen yang terampil dan tidak ceroboh.
2. Pada pemanenan, hindari kerusakan mekanis dengan melakukan panen secara hati-hati. Panen sebaiknya dilakukan dengan tangan atau menggunakan alat bantu yang sesuai. Memperhatikan bagian tanaman yang dipanen. 
3. Gunakan tempat / wadah panen yang sesuai dan bersih, tidak meletakkan hasil panen di atas tanah atau di lantai dan usahakan tidak menumpuk hasil panen terlalu tinggi.
4. Hindari tindakan kasar pada pewadahan dan usahakan tidak terlalu banyak melakukan pemindahan wadah. Pada tomat, hindari memar atau lecet dari buah karena terjatuh, terjadi gesekan atau tekanan antar buah atau antar buah dengan wadah. Meletakan buah dengan hati-hati, tidak dengan cara dilempar-lempar.
5. Sedapat mungkin pada waktu panen pisahkan buah atau umbi yang baik dari buah atau umbi yang luka, memar atau yang kena penyakit atau hama, agar kerusakan tersebut tidak menulari buah atau umbi yang sehat.
Cabai adalah sayuran buah, proses pertumbuhannya dari buah terbentuk,buah kecil, membesar sampai suatu ketika ukurannya tidak bertambah lagi, kemudianbaru terjadi perubahan warna buah yang dapat terlihat sebagai kriteria matang.Perubahan warna pada tomat dari hijau - hijau kekuningan - kuning kemerahan - merah merata - merah tua. Panen Cabai dataran rendah lebih cepat dipanen dibanding cabai dataran tinggi. Panen pertama cabai dataran rendah sudah dapat dilakukan pada umur 70-75 hari. Sedang di dataran tinggi panen baru dapat dimulai pada umur 4-5 bulan. Setelah panen pertama, setiap 90-100 hari dilanjutkan dengan panen rutin. 
Pada lahan cabai milik bapak man dipanen pada umur sekitar 70-75 haridenganintervalpanen 3 - 5 hari.yang ditandai dengan 60% cabai sudah berwarna merah. Untuk dijadikan benih maka cabai dipanen bila buah sudah menjadi merah semua.Biasanya pada panen pertama jumlahnya hanya sekitar 50 kg/ha. Panen kedua naik bertahap hingga mencapai 600 kg per hektar. Setelah itu hasilnya menurun terus, sedikit demi sedikit hingga tanaman tidak produktif lagi. Tanaman cabai dapat dipanen terus-menerus hingga berumur 6-7 bulan.Pemanenan cabaidilakukan dengan cara memetik buah beserta tangkai buahnya dan sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah dan pada pagi hari bila kabut telah lewat. Pemanenan pada saat hujan akan menyebabkan kadar air cabai menjadi lebih tinggi sehingga cabe mudah terserang penyakit dan akan menyebabkan lebih cepat busuk. 
Cabe yang telah dipetik diletakkan dalam keranjang bambu yang sudah dilapisi dengan daun pisang. Dapat juga digunakan goni yang terbuat dari serat atau plastik. Hal ini untuk mengurangi tercecernya cabe dan menghindari kerusakan mekanis. Untuk selanjutnya siap diangkut dan dipasarkan.Selanjutnya hasil panen cabai kemudian di jual pada tengkulak dengan harga saat ini sekitar Rp. 15.000,-/kg. Hasil panen cabai pak man setelah panen langsung dijual ke tengkulak sehingga tidak dilakukan pengelolaan paska panen.
D. Permasalahan dan Solusi
Budidaya cabai merupakan salah satu budidaya tanaman sayur yang mempunyai resiko yang cukup tinggi. Pada umumnya komoditas sayuran mempunyai kendala yaitu produknya mudah mengalami penurunan mutu (busuk) yang menyebabkan  turunnya nilai jual produk tersebut. Luput dari kendala tersebut cabai sendiri dalam budidayanya masih mempunyai masalah lainnya dianataranya hama penyakit, musim yang tidak tentu, masalah kesuburan tanah dan lain sebagainya.
Dalam budidaya tanaman cabai yang dilakukan Bapak Man terdapat beberapa masalah yang dihadapi. Masalah-masalah yang dialami yaitu kondisi cuaca yang tidak menentu, hama dan penyakit yang menyerang serta harga cabai yang terus mengalami fluktuasi. Kondisi cuaca yang tidak menentu dimana terjadi hujan yang tidak terprediksi menyebabkan hambatan dalam budidaya tanaman cabai. Frekuensi hujan yang tinggi menyebabkan hasil cabai banyak mengalami kebusukan. Kelembaban yang tinggi akibat hujan selain menyebabkan kebusukan pada cabai juga menyebabkan tingginya populai hama patek yang menyebabkan turunnya produksi cabai Bapak Man. Permasalahan pemasaran juga merupakan kendala yang dihadapi bapak Man. Harga cabai di pasar yang tidak menentu menyebabkan usaha budidaya cabai menjadi tidak stabil. Harga cabai sering mengalami penurunan ketika banyaknya pasokan cabai ke pasaran.
Masing-masing permasalahan yang dialami bapak Man dalam budidaya cabai tersebut telah dilakukan antisipasi guna menekan kerugian yang ditimbulkan. Guna mengatasi permasalahan hujan yang sering terjadi yang dapat menyebabkan kebusukan pada cabai, bapak Man mengantisipasi dengan perbaikan irigasi. Cara yang dilakukan yaitu membuat saluran irigasi pada lahan menjadi miring dan membuat jalur pembuangan aliran air, sehingga tidak terjadi genangan yang menyebabkan kelembaban yang tinggi. Untuk mengurangi kelembaban yang dapat menyebabkan kebusukan dan munculnya hama patek, menurut bapak Man terdapat perlakuan yang dapat menurunkan kelembaban, yaitu penggunaan mulsa hitam perak dan juga penyiangan. Mulsa perak yang ada dipermukaan menyebabkan sinar matahari memantul kembali sehingga mempercepat proses penguapan air yang menggenang disekitar bedengan, serta penyiangan gulma menyebabkan kelembaban yang disebabkan karena tumbuhnya gulma dapat berkurang sehingga cara tersebut dilakukan sebagai cara pencegahan terhadap munculnya hama patek. Selain cara pencegahan tersebut juga dilakukan cara pengendalian langsung yaitu dengan penggunaan pestisida kimia. Sedangkan cara untuk mengatasi permasalahan fluktuasi harga, cara yang dilakukan bapak Man yaitu dengan memperkirakan saat panen cabainya bertepatan dengan saat harga cabai tinggi (misalnya saat bulan puasa tiba), setidaknya dengan meramalkan harga cabai saat panen sudah ada upaya untuk memberikan keuntungan dalam budidaya cabainya.

 












Perkembangan teknologi di bidang pertanian demikian pesat, sehingga mereka yang tertinggal dalam memanfaatkan kemajuan teknologi tidak akan memperoleh keuntungan yang maksimal dari kegiatan usaha yang dilakukannya. Salah satu perkembangan teknologi budidaya pertanian yang layak disebarluaskan adalah teknologi hidroponik. Hal ini disebabkan oleh semakin langkanya sumberdaya lahan, terutama akibat perkembangan sektor industri dan jasa, sehingga kegiatan usaha pertanian konvensional semakin tidak kompetitif karena tingginya harga lahan. Teknologi budidaya pertanian sistem hidroponik memberikan alternatif bagi para petani yang memiliki lahan sempit atau yang hanya memiliki pekarangan rumah untuk dapat melaksanakan kegiatan usaha yang dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan yang memadai.
Hidroponik secara harfiah berarti hidro = air, dan phonic = pengerjaan, sehingga secara umum berarti sistem budidaya pertanian tanpa menggunakan tanah tetapi menggunakan air yang berisi larutan nutrient. Budidaya hidroponik biasanya dilaksanakan di dalam rumah kaca (greenhouse) untuk menjaga supaya pertumbuhan tanaman secara optimal dan benar-benar terlindung dari pengaruh unsur luar seperti hujan, hama penyakit, iklim dll. Beberapa keunggulan budidaya sistem hidroponik antara lain adalah: (1) kepadatan tanaman per satuan luas dapat dilipatgandakan sehingga menghemat penggunaan lahan; (2) mutu produk (bentuk, ukuran, rasa, warna, kebersihan/higiene) dapat dijamin karena kebutuhan nutrient tanaman dipasok secara terkendali di dalam rumah kaca; (3) tidak tergantung musim/waktu tanam dan panen dapat diatur sesuai dengan kebutuhan pasar.
Jenis hidroponik dapat dibedakan dari media yang digunakan untuk tempat berdiri tegaknya tanaman. Media tersebut biasanya bebas dari unsur hara (steril), sementara itu pasokan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dialirkan ke dalam media tersebut melalui pipa atau disiramkan secara manual. Media tanam tersebut dapat berupa kerikil, pasir, gabus, arang, zeolit, atau tanpa media agregat (hanya air). Yang terpenting adalah bahwa media tanam tersebut suci hama sehingga tidak menumbuhkan jamur atau penyakit lainya. BPP Teknologi telah melaksanakan pilot percontohan hidroponik dengan menggunakan arang sekam sebagai media tanam di Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Kuningan (Jawa Barat).
Petunjuk Proses
a. Konstruksi Rumah Kaca
Untuk menekan biaya, maka kerangka rumah plastik dibuat dari bambu, berukuran panjang 6,5 m, lebar 20 m, dan tinggi 3 m, dengan spesifikasi teknis untuk setiap unit rumah kaca seperti pada Gambar 1. Lapisan
atap rumah kaca dibuat dari plastik ultra violet dan dinding ditutupi dengan paranet 60% atau kasa serangga (insect net). Lantai rumah kaca, apabila memungkinkan diplester atau ditutupi dengan plastik mulsa untuk menghindarkan lantai menjadi becek. Prinsip dasar rumah kaca tersebut adalah bahwa cahaya matahari tetap dapat masuk, namun lingkungan di dalam rumah kaca terlindung dari gangguan unsur luar.
b. Perlengkapan Hidroponik
Perlengkapan hidroponik seluruhnya diletakkan di dalam rumah kaca. Pada prinsip-nya terdiri dari perlengkapan media tumbuh tanaman (polybag, arang sekam, tali perambat), perlengkapan suplai air (pompa air, tangki pencampur pupuk, pipa distribusi, filter), dan perlengkapan alat ukur (pH meter, Conductivity meter, termometer dll). Rincian jenis dan jumlah perlengkapan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2,3 dan 4.
c. Proses Budidaya
Hidroponik pada umumnya dimanfaatkan untuk memelihara tanaman hortikultura (sayur dan buah) yang bernilai ekonomis tinggi. Pada percontohan yang diterapkan BPPT di Kabupaten Kuningan dan Bekasi, komoditi yang dipelihara adalah tomat, paprika, timun, melon dan cabe merah. Prinsip pemeliharaan untuk setiap jenis tanaman adalah sama, hanya berbeda pada komposisi pupuk yang diberikan. Proses budidaya diawali dengan persiapan media tanam berupa arang sekam. Arang sekam tersebut dibuat dengan “menyangrai” (membakar di atas lapisan seng) sekam padi hingga membentuk arang. Arang sekam tersebut kemudian dimasukkan ke dalam polibag kecil sebagai media penyemaian benih, dan polibag besar (30 cm x 30 cm) untuk proses pembesaran. Penyemaian benih dilaksanakan di tempat tersendiri (di dalam rumah kaca) sampai berumur 2 minggu dengan perawatan secara manual. Benih yang digunakan sedapat mungkin benih unggul yang dijual dalam kemasan khusus. Selanjutnya bibit yang telah siap tanam, dipindahkan ke dalam media tumbuh dalam polibag besar dan siap dibesarkan.
Sementara penyemaian dilakukan, instalasi tangki, pompa dan pipa irigasi dipersiapkan dengan cara menghubungkan tangki air dengan seluruh polibag besar menggunakan pipa PE (lihat Gambar 2). Kunci keberhasilan budidaya hortikultura sistem hidroponik adalah pada pemberian komposisi pupuk yang tepat, sesuai dengan jenis dan umur tanaman. Untuk itu, unsur hara yang dibutuhkan tanaman dipasokkan ke media tumbuh secara terukur dan berkala dengan sistem drip irrigation, yaitu dengan menggunakan pompa dan pipa-pipa yang telah dipersiapkan. Selain itu, perlakuan khusus seperti pemangkasan dahan/ranting yang tak berguna, pembuatan tali rambatan, pencegahan dan pemberantasan hama perlu dilakukan secara teliti. Pemangkasan bakal buah pun perlu dilakukan agar buah yang disisakan untuk dipanen benar-benar tumbuh dengan optimal karena mendapat makanan yang cukup. Lama masa pemeliharaan sangat tergantung jenis tanaman. Sebagai gambaran, tanaman tomat dipanen setelah berumur 4 bulan, paprika 5 bulan, melon 3 bulan dan timun 3 bulan. Proses pemanenan dilakukan secara manual dengan memilih buah yang telah benar-benar masak. Artinya, proses pemanenan dapat dilakukan tidak sekaligus, melainkan secara bertahap selama 1-2 minggu. Komposisi pupuk yang diberikan kepada tanaman dibedakan antara masa pembibitan, masa pertumbuhan dan masa pembuahan. Untuk masa pembibitan, pupuk diberikan setelah tumbuh daun asli dengan frekuensi 3 hari sekali, yaitu TSP 10g/20 l air dan NPK 20 g/20 l air. Sementara itu untuk masa pertumbuhan dan pembuahan, pemberian pupuk dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Pemberian pupuk dalam masa pertumbuhan
No Jenis
Pupuk Masa Pertumbuhan
(g/1000 l) Masa Pembuahan
(g/1000 tanaman)
1. KNO3 250 250
2. TSP 250 200
3. Ca(NO3)2 250 250
4. MgSO4 200 300
5. NPK 250 300
6. H3BSO4 140 140
7. FeSO4 100 140
8. MnSO4 100 100
9. ZnSO4 20 20
10. CuSO4 4 4
11. ZA - 100
Gambar 3. Contoh tanaman tomat sistim hidroponik yang telah siap panen di Kabupaten Kuningan

 Tabel 2. Biaya Investasi (Untuk 1000 tanaman, 240 m2)
No Uraian Jumlah Unit Harga/Unit Total
Kerangka Bangunan Bambu
Plastik Ultra Violet
Insect Net
Plastik Mulsa
Biaya Pembuatan Bangunan
Polybag
Arang Sekam
Sistem Irigasi (Pompa,tangki, pipa dll) 240 m2
100 kg
5 roll
1 roll
1 paket
60 kg
300 karung
240 m2 Rp 20.000,-
Rp 21.000,-
Rp 300.000,-
Rp 350.000,-
Rp 1.000.000,-
Rp 5.000,-
Rp 2.000,-
Rp 10.000,- Rp 4.800.000,-
Rp 2.100.000,-
Rp 1.500.000,-
Rp 350.000,-
Rp 1.000.000,-
Rp 300.000,-
Rp 600.000,-
Rp 2.400.000,-
  Total Biaya Investasi Rp13.050.000 ,-

 Tabel 3. Biaya Produksi / Siklus (3 – 5 bulan)
No Uraian Jumlah Unit Harga/Unit Total
Bibit Tanaman
Pupuk dan obat-obatan
Biaya listrik
Upah tenaga Kerja 1 paket
1 paket
5 bulan
5 bulan Rp 100.000,-
Rp 1.200.000,-
Rp 20.000,-
Rp 120.000,- Rp 100.000,-
Rp 1.200.000,-
Rp 100.000,-
Rp 600.000,-
  Total Biaya Produksi Rp 2.000.000,-

Tabel 4. Perkiraan Pendapatan Kotor / siklus
Uraian Alternatif 1
Paprika (5 bl) Alternatif 2
Tomat (4 bl) Alternatif 3
Melon (3 bl) Alternatif 4
Timun (3 bl)
Produksi / Tanaman 1,5 kg 4,0 kg 1,5 kg 3,0 kg
Jumlah Tanaman 1000 1000 1000 1000
Total Produksi 1500 kg 4000 kg 1500 kg 3000 kg
Harga jual /kg 5000 1500 3000 1500
Pendapatan Kotor (Rp) 7.500.000,- 6.000.000,- 4.500.000,- 4.500.000,-
                                       *) Status Bulan Juni 1998
Teknologi Hidroponik adalah salah satu jawaban untuk memberikan solusi terhadap kendala yang dihadapi oleh pelaku agribisnis terutama sayuran. Hidroponik adaalah suatu teknologi budidaya tanaman yang menggunakan media tanam selain tanah dan dapat dilakukan di dalam Rumah tanaman (greenhouse). Greenhouse dibuat untuk rumah atau naungan tanaman agar iklim mikro dapat kita optimalkan, Greenhouse menghindari dari air hujan, Greenhouse membantu produksi sayuran selalu kontinyu, tanpa terhalangi oleh musim kemarau atau hujan. Teknologi ini memperbesar peluang untuk lebih meningkatkan produksi per m2.

Teknologi Hidroponik & Greenhouse di Indonesia sejak Tahun 1992 telah mengalami pasang surut, tidak hanya penyerapan SDMnya yang lambat, juga sebagian besar bahan dan alat yang digunakan adalah masih Import. Barang Import memang cenderung harganya tinggi, sebab kebijakan bea masuk tidak mengenal apakah barang itu buat pertanian atau tidak. Tetapi lambat laun trend dan luasan hidroponik di Indonesia cepat naik, menurut catatan kami, Greenhouse sudah lebih dari 70 ha untuk produksi sayuran, terutama di dataran tinggi, baik Greenhouse buatan dalam negeri maupun Import.

Sekarang sudah sangat pesat perkembangan Teknologi Hidroponik & Greenhouse, dari tanaman Tomat, Paprika, melon, cabai, timun, terong, lettuce, krisan, mawar, bunga potong, rocket, strawbery dll. dari mulai teknologi hidroponik yang manual sampai yang dikendalikan oleh komputer.

Semua itu adalah upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi, nilai jual yang tinggi, kualitas, memenuhi pasar yang tidak kenal musim hujan, dan pada akhirnya sayuran & buah Indonesia di hargai oleh Negara lain, sebab beberapa kasus export sayuran dari Indonesia tidak bisa masuk ke negara lain, tetapi bisa masuk melalui pihak negara lain. Lets Go Hydroponics & Greenhouse...

Ok I wanna share about somethings that I do in my university. I do take some Pest studies . Here I study about silkworm and I made a research in Sericulture... so if you wanna copy - paste it, don't forget to take this journal as your source in DAFTAR PUSTAKA  ...ok? :)


PENDAHULUAN


Sericulture berarti budidaya ulat sutra yang mana hasil akhirnya akan 
menghasilkan sutera. Sutra kata terdengar mewah dan kelas. Sampai
hari ini, tidak ada kain lain yang dapat menandinginya dalam kilau dan keanggunannya. Sericulture dibudidayakan di Karnataka, Bengal,
Tamil Nadu, Andhra Pradesh, Jammu & Kashmir, Gujarat, Kerala,
Maharastra, Uttar Pradesh, Rajastan, Bihar, Orissa dll.
Selama masih ada keinginan dan kebutuhan  manusia akan pakaian sutra ,maka   kegiatan Sericulture akan tetap berlanjut. Sutra adalah ratu tekstil dan
secara alami diproduksi dari  serat hewan.
Sericulture merupakan industri kuno yang sudah ada di India sejak abad kedua SM. Sericulture memiliki sejarah panjang dalam melewati periode kemakmuran yang besar serta penurunan juga. Sericulture melibatkan pertanian, seni dan industri; pemeliharaan ulat sutra adalah seni di tangan orang-orang pedesaan; reeling dari sutra dari kepompong yang dibentuk oleh cacing adalah sebuah industri
berbeda keuangan investiments. Sericulture ilmiah adalah tempat pertemuan antara pertanian dan seni, seni dan industri, kuno budaya dan peradaban, orang kaya dan orang miskin itu mencerminkan saling ketergantungan ini.
Sericulture adalah nominal industri rumahan unggulan. Ini adalah salah satu sektor yang paling intersive  membutuhkan tenaga kerja dan sangat membantu perekonomian India karena menggabungkan kedua sektor perekonomian yakni pertanian dan industri, yang menyediakan sarana mata pencaharian untuk bagian besar penduduk .Ini adalah salah satu investasti di sektor pertanian yang memberikan hasil dalam 30 hari. Selanjutnya kami akan membahas mengenai budidaya ulat sutera tersebut (Sericulture).  


BUDIDAYA ULAT SUTERA

 Klasifikasi Ulat Sutera Bombyx mori L. 
Kingdom : Animalia 
Filum : Arthropoda 
Sub Filum : Mandibulata 
Klass : Insecta 
Sub Klass : Pterygota 
Ordo : Lepidoptera 
Family : Bombycidae 
Genus : Bombyx 
Spesies : Bombyx mori L.
Morfologi Ulat Sutera







 Gambar 1.1 Ulat sutera Bombyx mori L. instar V; A. Thorax (dada) 
B. Abdominal segment (segmen perut) C. Crescent D. Eye spots (mata) 
E. Head (kepala) F. Caudal horn (ekor) G. Thorax legs H. Spiracles 
I. Stars spots J. Abdominal legs K. Caudal legs
Bentuk tubuh ulat terbagi menjadi 3 bagian utama, yaitu kepala, thoraks, dan abdomen. Ulat sutera yang biasa dipelihara mempunyai bintik hitam kecoklatan yang disebut bintik mata. Karena penempilannya, kebanyakan orang yang melihat ulat ini untuk pertama kali mungkin salah, menganggap bintik mata sebagai mata, dada sebagai kepala, dan kepala sebagai mulut.


1. Kepala
Kepala ulat sutera meskipun kecil memiliki struktur yang kompleks. Di bagian kepala terdapat sepasang antena yang merupakan organ syaraf/perasa. Antena ini terdiri dari 3 segmen pendek. Di pangkal antena ada sepasang mandibula (rahang) bersebelahan yang bergerak ke sisi untuk mengigit daun murbei. Mulut ada diantara mandibula, daun yang digigit masuk melalui bagian ini. Ada satu lingkaran kecil di pusat dibawah mulut, yaitu spineret. Spineret adalah tempat keluarnya filamen sutera. Filamen sutera keluar dari lubang yang ada diujung spineret tersebut. Pada kedua sisi spineret ada sepasang organ yang nampak seperti antena kecil yang disebut maksilla yaitu organ perasa yang berfungsi untuk mengidentifikasi makanan. Disisi yang lain pada dasar antena, ada 6 pasang lingkaran kecil berbentuk setengah bulatan, yaitu mata. Mata pada ulat sutera tidak seperti mata majemuk (pada ngengat), melainkan ocelli atau mata tunggal yang tidak mengenal bentuk dari objek yang nampak, tetapi hanya bisa melihat antara terang dan gelap. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini:







2. Dada (Thoraks) dan Perut (Abdomen)
Tubuh ulat sutera terdiri dari 13 segmen. Dibagian paling depan adalah kepala yang dibungkus kulit keras yang berwarna hitam kecoklatan. Selanjutnya ada 3 segmen berurutan, ketiga segmen tersebut tersusun berurutan yaitu prothoraks, mesothoraks, dan metathoraks.Sembilan segmen terakhir disebut abdomen. Segmen ke 3,4,5,6 dan segmen terakhir masing-masing mempunyai sepasang kaki, yang disebut kaki abdomen. Kaki abdomen terakhir yang paling besar disebut kaki kaudal. Kaki abdomen tidak mempunyai segmen dan disebut proleg. Sedangkan tanduk yang ada pada segmen ke-8 disebut tanduk kaudal. 








3. Perbedaan antara Larva (ulat) Jantan dan Betina
  





Dapat dilihat pada gambar diatas, larva jantan mempunyai 1 titik dari kelenjar Herold pada abdomen perbatasan antara segmen ke-11 dan 12, sedangkan larva betina sepasang bintik kecil pada bagian abdomen segmen ke-11 dan 12. Bintik-bintik tersebut disebut kelenjar Ishiwata depan dan kelenjar Ishiwata belakang. Waktu yang paling tepat untuk membedakan kedua jenis kelamin adalah pada awal instar V, tepat setelah ganti kulit yang ke-4. Akan tetapi karakteristik ini sulit dilihat dengan mata biasa, oleh karena itu identifikasi hanya dilakukan oleh para ahli.
Daur Hidup Ulat Sutera
Ulat sutera adalal larva dari serangga yang termasuk ordo Lepidoptera yang mengalami metamorfosa sempurna.  Siklus hidup ulat sutera diawali dari telur, kemudian menetas menjadi ulat, pupa dan akhirnya menjadi kupu yang siap bertelur lagi.  Selama menjadi ulat, merupakan masa makan dan terjadi 4 kali pergantian kulit.
















Sebelum terjadi pergantian kulit ulat sutera dinamakan instar 1, instar 2, instar 3, instar 4 dan instar 5,  dan ulat sutera sama sekali berhenti makan, saat ini dinamakan masa tidur atau masa istirahat.  Setelah instar 5 berakhir ulat mengokon untuk berubah menjadi pupa.  Selanjutnya pupa berubah menjadi kupu dan siklus akan berulang dimulai lagi dari telur.
Salah satu ciri-ciri kupu-kupu berkelamin jantan adalah fisiknya lebih kecil dibanding kupu-kupu betina. Tugas kupu-kupu jantan adalah membuahi sang betina. Sedikitnya butuh waktu dua jam untuk perkawinan yang produktif. Usai pembuahan, enam jam kemudian kupu-kupu betina bertelur. Setiap kupu-kupu betina biasanya mampu bertelur hingga 500 butir. Namun, siklus hidup ulat betina lebih pendek. Sedangkan ulat jantan mampu kawin hingga tiga kali, sebelum akhirnya mati.
Daun untuk ulat kecil adalah daun yang diambil dari kebun murbei yang telah dipangkas 1 bulan sebelumnya. Pengambilan daun sebaiknya dilakukan pagi hari atau sore hari untuk menghindari kelayuan dan diambil sesuai dengan kebutuhan saja. Untuk masing-masing instar diperlukan daun yang berbeda-beda. Untuk instar I diperlukan daun ke 4 – 5 dihitung dari pucuk terpanjang, instar II daun ke 5 – 6 sedangkan untuk instar III diambil dari daun ke 7 – 8. pengambilan daun dari kebun dilakukan dengan cara memetik atau mewiwil sesuai dengan instar ulat kecil. 



Langkah – langkah dalam budidaya Ulat Sutera :
• Pengambilan daun untuk ulat kecil
Daun murbei yang diambil dari kebun, sebelum diberikan pada ulat kecil harus disimpan di tempat yang bersih dan terlindung. Penyimpanan dapat menggunakan keranjang atau di lantai. Susun daun pada posisi tegak dan tidak terlalu rapat kemudian tutup dengan kain supaya daun tidak cepat layu. Untuk menjaga supaya daun tetap segar, maka jaga kelembaban tetap tinggi dengan menciprati lantai dengan air dan jangan membasahi daun dengan menyiram.
• Pemberian makan
Daun murbei , sebelum diberikan sebagai pakan terlebih dahulu harus dirajang untuk memudahkan ulat makan. Ukuran rajangan berbeda untuk maing-masing instar. Ukuran rajangan untuk instar I adalah 0,5 cm – 1 cm, instar II berukuran 1 – 2 cm, sedangkan untuk instar III ukuran rajangan 2 – 3 cm.

• Ukuran rajangan daun murbei

Berikan rajangan daun murbei secara merata dalam jumlah yang cukup. Untuk menghindari daun murbei cepat kering, maka sasag tepat ulat ditutup kertas setelah pemberian makan. Berikan pakan 3 – 4 kali sehari yaitu pagi, siang, sore dan malam hari. 
Petunjuk pemeliharaan 1 box ulat sutera kecil (25000 ekor). 
Pemberian makan terakhir pada tiap instar harus dilakukan setelah 90% dari ulat itu istirahat.  

• Desinfeksi tubuh ulat sutera
Pada waktu ulat tidur dan ganti kulit, ditaburkan di atasnya campuran kapur dan formalin 0,5%, dan biarkan tidak ditutup agar kondisi sekitar ulat kering. Hindari dari goncangan, tiupan angin dan suara yang keras. Selesai ganti kulit pada instar berikutnya lakukan desinfeksi seperti pada waktu ulat tidur.

Desinfeksi tubuh ulat
• Pembersihan dan perluasan tempat 
Daun-daun yang tidak dimakan ulat kalau dibiarkan akan terus menumpuk, akibatnya akan mengganggu pada pertumbuhan ulat sutera. Agar kotoran ulat dan sisa daun tidak menjadi sumber penyakit maka perlu dibersihkan. Pada instar I, tempat ulat dibersihkan satu kali pada saat ulat bangun tidur, sedangkan instar II dan instar III dibersihkan sebelum ulat tidur.

Memasang jaring
Pembersihan dilakukan dengan cara memasang jaring pada sasag tempat pemeliharaan ulat. Selanjutnya di atas jaring diberi daun murbei yang baru. Setelah semua ulat naik ke atas jaraing untuk makan, jaring diangkat dan dipindahkan ke tempat lain. Kotoran ulat dan sisa daun yang tertinggal dibersihkan lalu dibuang ke tempat yang jauh. 

Perluasan tempat ulat
Sesuai dengan perkembangan ulat, tempat ulatpun harus selalu diperluas. Perluasan harus dilakukan dengan hati-hati dan pada waktu yang tepat. Perluasan ulat jangan dilakukan sekaligus untuk menghindari banyaknya ulat yang hilang. Apabila ulat tidak dapat diperluas pada satu tempat, maka pindahkan ulat pada tempat yang lain.

• Pemeliharaan Ulat Besar
Pemeliharaan ulat besar dilaksanakan pada instar IV dan instar V. Kedua instar ini secara fisiologi sangat berbeda satu sama lainnya. Instar IV lebih dekat pada ulat sutera kecil, maka pemeliharaan dititik beratkan pada menjaga lingkungan yang bebas penyakit, suhu dan kelembaban yang sesuai, pemberian pakan yang cukup dan bergizi.
Pada instar V merupakan fase terpenting pemeliharaan ulat sutera, karena pada fase ini pertumbuhan kelenjar sutera berjalan cepat. Keperluan daun murbei untuk pakan hampir 90% dihabiskan pada instar V, sehingga daun murbei harus dimanfaatkan seefisien mungkin.
• Ruang pemeliharaan ulat sutera
Pemeliharaan ulat sutera besar dapat dilakukan di bangunan khusus, yang tata letak ruangannya diatur sedemikian rupa. Bangunan pemeliharaan pada dasarnya harus mempunyai 3 ruangan yang masing-masing berbeda kegunaannya. Ruang tersebut adalah ruang pemeliharaan, ruang penyimpanan daun murbei, dan ruang penyimpanan peralatan pengokonan. Dimana ruang penyimpanan daun harus terlindung dari angin dan panas matahari serta terpisah dari ruang penyimpanan peralatan pengokonan.

Skema bangunan pemeliharaan ulat besar








Sifat ulat sutera besar berbeda dengan ulat kecil, ulat besar menghendaki suhu dan kelembaban yang lebih rendah. Sehingga suhu perlu diatur pada 230 C – 240 C dan kelembaban 75%.

Pembersihan dan desinfeksi ruang dan peralatan
Sebelum pemeliharaan ulat besar, seperti halnya pada pemeliharaan ulat kecil perlu dilakukan pembersihan dan desinfeksi ruang dan peralatan yang akan dipakai. Cara pelaksanaan pembersihan dan desinfeksi sama seperti pada pemeliharaan ulat kecil. Desinfeksi dilakukan paling lambat 2 hari sebelum pemeliharaan ulat besar dimulai. Di samping itu juga harus selalu tersedia larutan desinfeksi untuk kaki dan tangan. Cara disinfeksi sama seperti pada desinfeksi ulat kecil.

Peralatan dan bahan
Peralatan dan bahan-bahan yang penting dalam pemeliharaan ulat besar adalah rak pemeliharaan, gunting stek, golok, sasag, lembaran plastik, ember, jolang, kain blacu, jaring, alat pengokonan, kapur, kaporit dan formalin.

Tanaman murbei untuk ulat besar
Daun murbei untuk pakan ulat besar dibutuhkan yang kandungan airnya rendah dan gizinya tinggi. Untuk mendapatkan daun tersebut tanaman murbei harus dipangkas 3 – 4 bulan sebelum pemeliharaan ulat dan melakukan pemupukan yang cukup. Di samping itu juga harus dilakukan pengendalian hama dan penyakit, cara panen yang benar dan penyimpanan daun murbei yang telah dipanen dengan baik. Kegiatan tersebut dilakukan, selain untuk meningkatkan produksi daun murbei juga untuk mempertahankan supaya daun tetap bergizi tinggi.





Sistem Informasi Georafis atau Georaphic Information
Sistem (GIS) merupakan suatu sistem informasi yang berbasis komputer, dirancang untuk bekerja dengan menggunakan data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Sistem ini mengcapture,mengecek, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisa, dan menampilkan data yang secara spasial mereferensikan kepada kondisi bumi. Teknologi SIG mengintegrasikan operasi-operasi umum database, seperti query dan analisa statistik, dengan kemampuan visualisasi dan analisa yang unik yang dimiliki oleh pemetaan.

Kemampuan inilah yang membedakan SIG dengan Sistem Informasi lainya yang membuatnya menjadi berguna berbagai kalangan untuk menjelaskan kejadian, merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang terjadi. Sistem ini pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1972 dengan nama Data Banks for Develompment (Rais, 2005).

Munculnya istilah Sistem Informasi Geografis seperti sekarang ini setelah dicetuskan oleh General Assembly dari International Geographical Union di Ottawa Kanada pada tahun 1967.Dikembangkan oleh Roger Tomlinson, yang kemudian disebut CGIS (Canadian GIS-SIG Kanada), digunakan untuk menyimpan, menganalisa dan mengolah data yang dikumpulkan untuk inventarisasi Tanah Kanada (CLI-Canadian Land Inventory) sebuah inisiatif untuk mengetahui kemampuan lahan di wilayah pedesaan Kanada dengan memetakan berbagai informasi pada tanah, pertanian, pariwisata, alam bebas, unggas dan penggunaan tanah pada skala 1:250000. Sejak saat itu Sistem Informasi Geografis berkembang di beberapa benua terutama Benua Amerika, BenuaEropa, Benua Australia, dan Benua Asia.  Seperti di Negara-negara yang lain, di Indonesia pengembangan SIG dimulai di lingkungan pemerintahan dan militer. Perkembangan SIG menjadi pesat semenjak di ditunjang oleh sumberdaya yang bergerak di lingkungan akademis (kampus). 

Sistem Informasi
Kata sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu systema, yang mempunyai satu pengertian yaitu sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan satau kesatuan yang tidak terpisahkan (Vaza,2006). Sementara itu menurut Hamalik (2002 dalam Zakir 2007) Sistem secara teknis berarti seperangkat komponen yang saling berhubungan dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Mudyharjo (1993, dalam Zakir 2007) mendefinisikan sistem sebagai suatu kesatuan dari berbagai elemen atas bagian -bagian yang mempunyai hubungan fungsional dan berinteraksi secara
dinamis untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Dari ketiga definisi tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang saling berhubungan erat satu dengan lainya untuk mencapai tujuan bersamasama. Subsistem sebenarnya hanyalah sistem di dalam suatu sistem, sebagai contoh, pesawat terbang adalah suatu sistem yang terdiri dari sistem-sistem bawahan seperti mesin, sistem badan pesawat dan sistem rangka. Masing-masing sistem ini terdiri dari sistem tingkat
yang lebih rendah lagi, misal sistem mesin adalah kombinasi dari sistem karburator, sistem bahan bakar dan seterusnya. Istilah subsistem digunakan untuk memudahkan analisis dan pengkomunikasian.
Berikut ini adalah karakter atau sifat-sifat tertentu yang
dimiliki oleh sistem

Mempunyai komponen (component).
Suatu sistem mempunyai sejumlah komponen yang saling berinteraksi dan bekerjasama untuk membentuk suatu kesatuan.Setiap komponen mempunyai sifat-sifat dari sistem untuk menjalankan suatu fungsi tertentu dan mempengaruhi
proses sistem secara keseluruhan.

􀂃 Batas sistem (boundary).
Batas sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sitem dengan sistem lainya.

􀂃 Penghubung sistem (interface).
Penghubung merupakan media antara subsistem dengan subsistem lainya. Penghubung memungkinkan sumber-sumber daya mengalit dari satu subsistem ke subsistem lainya, dan juga subsistem -subsistem tersebut dapat berintegrasi membentuk satu kesatuan.

􀂃 Masukan sistem (input).
Sesuatu yang dimasukan ke dalam sistem yang berasal dari lingkungan

􀂃 Keluaran sistem (output).
Suatu hasil dari proses pengolahan sistem yang dikeluarkan ke lingkungan

􀂃 Pengolahan sistem (proces).
Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolahan yang akan mengubah masukan menjadi keluaran

􀂃 Lingkungan luar sistem (environments)
Segala sesuatu di luar batas suatu sistem yang mempengaruhi kerja sistem.

􀂃 Sasaran suatu tujuan (goal)
Setiap sistem mempunyai tujuan. Suatu sistem dikatakan berhasil jika mengenai sasaran atau tujuan (goal)



Komponen Sistem Informasi Geografi
1. Perangkat keras
Perangkat keras yang sering digunakan antara adalah Digitizer, scanner,Central Procesing Unit (CPU), mouse , printer, plotter

2. Perangkat lunak
(Arc View, Idrisi, ARC/INFO,ILWIS, MapInfo dan lain lain)
3. Data dan informasi geografi
Data dan informasi yang diperlukan baik secara tidak langsung dengan cara meng import-nya dari perangkat-perangkat lunak SIG yang lain maupun secara langsung dengan cara menjitasi data spasial dari peta dan memasukan data atributnya dari table-tabel dan laporan dengan menggunakan keyboard

1. Pengguna (user), Teknologi GIS tidaklah bermanfaat tanpa manusia yang mengelola sistem dan membangun perencanaan\ yang dapat diaplikasikan sesuai kondisi nyata Suatu proyek SIG akan berhasil jika di manage dengan baik dan dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki keakhlian yang tepat pada semua
tingkatan.



Aplikasi dan Pemanfaatan SIG

Sistem Informasi Geografis dapat dimanfaatkan untuk mempermudah dalam mendapatkan data-data yang telah diolah dan tersimpan sebagai atribut suatu lokasi atau obyek. Data-data yang diolah dalam SIG pada dasarnya terdiri dari data spasial dan data atribut dalam bentuk dijital. Sistem ini merelasikan data spasial (lokasi geografis) dengan data non spasial, sehingga para penggunanya dapat membuat peta dan menganalisa informasinya dengan berbagai cara. SIG merupakan alat yang handal untuk menangani data spasial, dimana dalam SIG data dipelihara dalam bentuk digital sehingga data ini lebih padat dibanding dalam bentuk peta cetak, table, atau dalam bentuk konvensional lainya yang akhirnya akan mempercepat pekerjaan dan meringankan biaya yang diperlukan (Barus dan Wiradisastra, 2000 dalam As Syakur 2007).

Ada beberapa alasan yang mendasari mengapa perlu menggunakan SIG, menurut Anon (2003, dalam As Syakur 2007) alasan yang mendasarinya adalah:
1. SIG menggunakan data spasial maupun atribut secara terintergarsi
2. SIG dapat memisahkan antara bentuk presentasi dan basis data
3. SIG memiliki kemampuan menguraikan unsure-unsur yang ada dipermukaan bumi ke dalam beberapa layer atau coverage data spasial
4. SIG memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menvisualisasikan data spasial berikut atributnya
5. Semua operasi SIG dapat dilakukan secara interaktif
6. SIG dengan mudah menghasilkan peta -peta tematik
7. SIG sangat membantu pekerjaan yang erat kaitanya dengan bidang spasial dan geoinformatika.
Posisi GIS dengan segala kelebihannya, semakin lama semakin berkembang bertambah dan bervarian. Pemanfaatan GIS semakin meluas meliputi pelbagai disiplin ilmu, seperti ilmu kesehatan, ilmu ekonomi, ilmu lingkungan, ilmu pertanian, militer dan lain sebagainya.
Berikut ini adalah beberapa contoh aplikasi SIG:
1. Pengelolaan Fasilitas : Peta skala besar, network analysis, biasanya digunakan untuk pengolaan fasilitas kota. Contoh aplikasinya adalah penempatan pipa dan kabel bawah tanah, perencanaan fasilitas perawatan, pelayanan jaringan telekomunikasi
2. Pengolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Untuk tujuan ini pada umumnya digunakan citra satelit, citra Landsat yang digabungankan dengan foto udara, dengan teknik overlay. Contoh aplikasinya adalah studi kelayakan untuk tanaman pertanian, pengelolaan hutan dan analisis dampak lingkungan
3. Bidang Transportasi: Untuk fungsi ini digunakan peta skala besar dan menengah dan analisis keruangan, terutama untuk manajemen transit perencanaan rute, pengirimsn teknisi, analisa pelayanan, penanganan pemasaran dan sebagainya.

4. Jaringan telekomunikasi : GIS digunakan untuk memtakan Sentral. MDF (Main Distribution Poin), kabel primer, Rumah Kabel, kabel Sekunder, Daerah Catu Langsung dan seterusnya sampai ke pelanggan. Dengan GIS kerusakan yang terjadi dapat segera diketahui.
5. Sistem Informasi Lahan : Untuk keperluan ini yang digunakan adalah peta kadastral skala besar atau peta persil tanah dan analisis keruangan untuk informasi kadatral pajak.









Older Posts

HELLO, THERE!


Hello, There!
Hello, There!

Mostly blog about beauty things, Agriculture Bachelor specialize in Hydroponic, I love Flower too


Find More



Visitor

recent posts

Charis Shop

Blog Archive

  • January (1)
  • December (4)
  • November (4)
  • October (2)
  • January (1)
  • June (1)
  • December (2)
  • November (1)
  • June (1)
  • May (1)
  • March (2)
  • February (1)
  • December (1)
  • October (2)
  • September (5)
  • August (2)
  • July (2)
  • June (5)
  • May (7)
  • April (2)
  • March (7)
  • February (7)
  • January (4)
  • December (5)
  • November (4)
  • October (2)
  • June (1)
  • May (1)
  • March (1)
  • December (2)
  • November (1)
  • September (1)
  • August (1)
  • June (2)
  • May (4)
  • April (1)
  • January (1)
  • December (3)
  • June (1)
  • May (1)
  • September (18)

PAGEVIEWS TOTAL

Search This Blog

youtube

Labels

#KisahTanggalTuaku abstract thing Acer Indonesia Acer Liquid Z320 Agrotechnology Agroteknologi ALTHEA aokigahara Bahan Kuliah beauty Bokek Buah Cabai campus CHARIS CHARIS CELEB COLORFUL AFFAIR CHALLENGE COLORSTAY EYELINER COMPETITION Cosmetic CUSHION daily activities earphone Eileen Grace Emina Entomology Etude House Tear Drop Liner Fashion Foods geology H.I.S hair colour haircare haircolor Hidrogel Hidroponik Hydrogel Hydroponic Ilmu Tanah Japan Japanese language Jasa Ekspedisi Kosé Laporan Praktikum Lebaran lipstick Makalah Make Up MASCARA mask Materi ujian Maybelline meringue puff MINISO nature Ornamental plants Pagilaran Tea Garden Parfume Penanganan Pasca Panen Sayuran Pengelolaan pasca panen PERFECT BEAUTY Perfume Powerbank Prospek Buah di Indonesia puff purbasari re:bora Rekomendasi Restaurat Review REVLON Savoury Pizza scarlett SellOn Sericulture SHINZU'I SHINZU'I SKINCARE SKINCARE Smartphone Acer Soil Science Study tour Sulwhasoo SUMMER TRIP Sunlight Tear Tanaman Hias Tanaman obat Tanggal Tua Teknologi Budidaya Tips TRAVEL Travelling Ulat Sutera UNBOXING UNS Veet vulkanology Wahana Wisata you beauty

Created with by Seiya Light