facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Review
    • MakeUp
    • Agrotechnology
    • SkinCare
  • Others
  • Contact
  • Shop

Seiya Light


Aokigahara (青木ヶ原?), also known as the Sea of Trees (樹海, Jukai?), is a 35-square-kilometre (14 sq mi) forest that lies at the northwest base of Mount Fuji in Japan. The forest contains a number of rocky, icy caverns, a few of which are popular tourist destinations. Due to the wind-blocking density of the trees and an absence of wildlife, the forest is known for being quiet.[1]
The forest has a historic association with demons in Japanese mythology and is a popular place for suicides; 54 committed the act in 2010,[2] despite numerous signs, in Japanese and English, urging people to reconsider their actions


Geography

The forest floor consists primarily of volcanic rock and is difficult to penetrate with hand tools such as picks or shovels. There are also a variety of unofficial trails that are used semi-regularly for the annual "body hunt" done by local volunteers. In recent years, hikers and tourists trekking through Aokigahara have begun to use plastic tape to mark their paths so as to avoid getting lost.[4] Though officials try to remove the tape time and time again, tourists and thrill-seekers inevitably leave more and more litter, and a great deal of it lies scattered throughout the first kilometer of the forest, past the designated trails leading to tourist attractions such as the Ice Cave and Wind Cave. After the first kilometer into Aokigahara towards Mount Fuji, the forest is in a more "pristine" condition, with little to no litter and few obvious signs of human presence



Visitors and suicides

The forest is a popular place for suicides, reportedly the most popular in Japan and second in the world after San Francisco's Golden Gate Bridge.[5][6] Statistics vary. In the period leading up to 1988, about 100 suicides occurred there every year.[7]
In 2002, 78 bodies were found within the forest, exceeding the previous record of 74 in 1998.[1][8] In 2003, the rate climbed to 100, and in recent years, the local government has stopped publicizing the numbers in an attempt to downplay Aokigahara's association with suicide.[9] In 2004, 108 people killed themselves in the forest. In 2010, 247 people attempted suicide in the forest, 54 of whom completed the act.[2] Suicides are said to increase during March, the end of the fiscal year in Japan.[10] As of 2011, the most popular means of suicide in the forest were hanging and drug overdoses.[11]
The high rate of suicide has led officials to place signs in the forest, in Japanese and English, urging those who have gone there to commit suicide to seek help and not kill themselves. The annual body search, consisting of a small army of police, volunteers, and attendant journalists, began in 1970.[12][13][14]
The site's popularity has been attributed to the 1960 novel Nami no Tō (波の塔?, lit., "Tower of Waves") by Seichō Matsumoto,[15] which ends with two lovers committing suicide in the forest. However, the history of suicide in Aokigahara predates the novel's publication, and the place has long been associated with death: ubasute may have been practiced there into the 19th century, and the forest is reputedly haunted by the Yūrei (angry spirits) of those left to die.[9]
In 2008, members of the American television programme Destination Truth visited and investigated Aokigahara.



In Bahasa Indonesia

Aokigahara merupakan sebuah kawasan hutan di kaki gunung Fuji yang juga dikenali sebagai Jukai (Sea of Trees) yang terletak di Jepun. Sekali pandang, hutan ini sangat tebal dan gelap sehinggakan jika tersesat mungkin tiada kemungkinan untuk dijumpai semula. Tapi bukan itu sahaja yang unik dan seram mengenai hutan ini



Ianya adalah hutan terkenal untuk bunuh diri.

aokigahara-hutan-tempat-membunuh-diri

Setiap tahun lebih kurang 100 mayat yang dijumpai kerana mati membunuh diri di hutan tersebut tapi bilangan yang tidak berjaya dijumpai mungkin lebih ramai. Dikenali sebagai tempat membunuh diri paling popular di Jepun, dan kedua di dunia selepas Golden Gate Bridge di San Francisco.

Dikatakan trend membunuh diri di hutan Aokigahara ini bermula selepas Seicho Matsumoto menulis novel bertajuk Kuroi Kaiju (Lautan Hutan Hitam) di mana dua pasangan kekasih mati membunuh diri di situ. Selain mayat, tulang dan barang peninggalan yang ditinggalkan si mati, hutan itu juga dipenuhi dengan papan tanda yang menasihati mereka yang berhasrat untuk membunuh diri supaya memikirkan semula niat mereka.

Antara yang tertulis pada papan tanda tersebut; "Hidup anda adalah sebuah hadiah yang sangat berharga daripada ibu bapa anda. Tolong fikirkan keluarga anda. Jangan simpan masalah anda, luahkannya kepada mereka yang terdekat."
papan-tanda-di-pintu-masuk-aokigahara

Walaupun ramai yang tidak mengendahkan rayuan tersebut, namun terdapat juga yang berubah hati. Mungkin tidak begitu nekad dengan niat untuk membunuh diri, mereka akan membuat tanda dengan pita sepanjang perjalanan supaya mudah untuk mencari jalan pulang apabila berhasrat untuk terus hidup.
 Pengkaji hutan Aokigahara, Hayano berbual bersama suspek ingin membunuh diri di dalam sebuah khemah
suicide-note
Suicide note yang tergantung pada pokok di hutan tersebut, tertulis "Don't look for me"

Dalam kebanyakan kes apabila pita tersebut dijejaki, selalunya akan terdapat kesan seseorang pernah berada di situ atau yang malangnya, menjumpai mayat yang membunuh diri.

Kadar membunuh diri di situ dikatakan meningkat pada bulan Mac, di mana ianya merupakan pengakhiran tahun fiskal bagi negara Jepun. Untuk mengurangkan nama Aokigahara sebagai jolokan tempat untuk membunuh diri, kerajaan Jepun telah berhenti mengeluarkan statistik kematian di situ.
mayat-mati-gantung-diri-di-pokok

Mungkin ini harga yang perlu dibayar bagi negara maju seperti Jepun di mana kebanyakan rakyatnya siang malam bekerja dan belajar sehingga timbul tekanan hidup yang terlampau tinggi yang akhirnya tidak dapat lagi dibendung. Akhirnya, membunuh diri menjadi punca penyelesaian terakhir.

"It takes more courage to go on living than killing yourself"






Gunung Fuji (富士山, Fuji-san?, IPA: [ɸɯʥisaɴ]) adalah gunung tertinggi di Jepang, terletak di perbatasan Prefektur Shizuoka dan Yamanashi, di sebelah barat Tokyo. Gunung Fuji terletak dekat pesisir Pasifik di pusat Honshu. Fuji dikelilingi oleh tiga kota yaitu Gotemba (timur), Fuji-Yoshida (utara) dan Fujinomiya (barat daya). Gunung setinggi 3.776 m ini dikelilingi juga oleh lima danau yaitu Kawaguchi, Yamanaka, Sai, Motosu dan Shoji.
Gunung Fuji adalah simbol Jepang yang terkenal dan sering digambarkan dalam karya seni dan foto-foto, serta dikunjungi pendaki gunung maupun wisatawan.
Gunung Fuji diperkirakan terbentuk sekitar 10.000 tahun yang lalu. [1] Sebuah gunung berapi yang kini masih aktif walaupun memiliki kemungkinan letusan yang rendah, Fuji terakhir kali meletus pada tahun 1707. Terdapat lima danau di sekeliling Fuji, yaitu Danau Kawaguchi, Danau Yamanaka, Danau Sai, Danau Motosu dan Danau Shoji.
Sekitar 200.000 orang mendaki Gunung Fuji setiap tahunnya, 30% di antaranya orang asing. Tenggat waktu yang paling populer bagi para pendaki adalah dari 1 Juli hingga 27 Agustus. Pendakian bisa memakan waktu dari 3 hingga 7 jam sementara penurunan gunung mencapai sekitar 2 hingga 5 jam.



But you know what? Recently Mount Fuji was going to exploded again

Gunung Fuji Alami Peningkatan Aktivitas Usai Tertidur 300 Tahun


Peneliti Jepang melaporkan peningkatan aktivitas setelah tertidur lebih dari 300 tahun. Hal itu disebabkan adanya gempa 9,0 SR yang sempat mengguncang Wilayah Jepang pada 2011.


Komentar para ahli :
Para ahli vulkanologi Jepang meramalkan seandainya Gunung Fuji meletus seperti letusan terakhir sktr 30o tahun yang lalu (1707), kerugian material yang diakibatkan oleh letusannya bisa mencapai 21 Milyar US dollar!. Ini bisa difahami karena daerah sekitar gunung Fuji merupakan daerah pemukiman dan Tokyo termasuk kota yang dekat dengan Gunung Fuji.
Apabila melihata catatan sejarah letusannya, 2 kali sebelum tahun 1707 adalah tahun 1435 kemudian tahun 1511. Maka jarak antara tahun letusannya menjadi kurang lebih 100, 200 dan 300 tahun (kalau tahun2 ini meletus :d). Pada letusan tahun 1707 Gunung Fuji meletus dan menyemburkan material vulkanik tidak dari crater lama yang berada di puncaknya akan tetapi dari crater baru yang terbentuk di selatan agak ke timur, sehingga yang paling terkena dampak dari letusan pada saat ini kota yang berada sepanjang arah diantaranya Gotenba, Odawara, Yokohama dan Tokyo. Walaupun sebagian orang jepang merasa cemas kalau-kalau Gn Fuji ini meletus dalam waktu dekat, krn melihat siklus tahun meletusnya itu, Gunung Fuji tdk pernah sepi dari pengunjung. Gunung Fuji (3776 mdpl) merupakan salah satu tujuan mendaki gunung. Gn Fuji tidak pernah sepi dari para pendaki. Menurut catatan dari Yamanashi-ken, setiap tahun pendaki Gn Fuji tidak pernah kurang dari 200.000 orang! dan sepertiganya adalah orang asing…hebat!.
Sekitar tahun 2001 pernah ada isu bahwa Gunung Fuji akan meletus karena dideteksi ada gempa-gempa kecil dari bawah gunung Fuji. Akan tetapi belakangan dikatahui bahwa gempa frekuensi rendah itu berasal dari pengisian kantong magma Fuji oleh magma basaltik.

Older Posts

HELLO, THERE!


Hello, There!
Hello, There!

Mostly blog about beauty things, Agriculture Bachelor specialize in Hydroponic, I love Flower too


Find More



Visitor

recent posts

Charis Shop

Blog Archive

  • January (1)
  • December (4)
  • November (4)
  • October (2)
  • January (1)
  • June (1)
  • December (2)
  • November (1)
  • June (1)
  • May (1)
  • March (2)
  • February (1)
  • December (1)
  • October (2)
  • September (5)
  • August (2)
  • July (2)
  • June (5)
  • May (7)
  • April (2)
  • March (7)
  • February (7)
  • January (4)
  • December (5)
  • November (4)
  • October (2)
  • June (1)
  • May (1)
  • March (1)
  • December (2)
  • November (1)
  • September (1)
  • August (1)
  • June (2)
  • May (4)
  • April (1)
  • January (1)
  • December (3)
  • June (1)
  • May (1)
  • September (18)

PAGEVIEWS TOTAL

Search This Blog

youtube

Labels

#KisahTanggalTuaku abstract thing Acer Indonesia Acer Liquid Z320 Agrotechnology Agroteknologi ALTHEA aokigahara Bahan Kuliah beauty Bokek Buah Cabai campus CHARIS CHARIS CELEB COLORFUL AFFAIR CHALLENGE COLORSTAY EYELINER COMPETITION Cosmetic CUSHION daily activities earphone Eileen Grace Emina Entomology Etude House Tear Drop Liner Fashion Foods geology H.I.S hair colour haircare haircolor Hidrogel Hidroponik Hydrogel Hydroponic Ilmu Tanah Japan Japanese language Jasa Ekspedisi Kosé Laporan Praktikum Lebaran lipstick Makalah Make Up MASCARA mask Materi ujian Maybelline meringue puff MINISO nature Ornamental plants Pagilaran Tea Garden Parfume Penanganan Pasca Panen Sayuran Pengelolaan pasca panen PERFECT BEAUTY Perfume Powerbank Prospek Buah di Indonesia puff purbasari re:bora Rekomendasi Restaurat Review REVLON Savoury Pizza scarlett SellOn Sericulture SHINZU'I SHINZU'I SKINCARE SKINCARE Smartphone Acer Soil Science Study tour Sulwhasoo SUMMER TRIP Sunlight Tear Tanaman Hias Tanaman obat Tanggal Tua Teknologi Budidaya Tips TRAVEL Travelling Ulat Sutera UNBOXING UNS Veet vulkanology Wahana Wisata you beauty

Created with by Seiya Light